EKSPOR-IMPOR
BANTENPERSPEKTIF.COM, KOTA SERANG---Nilai ekspor di Propinsi Banten pada Februari 2016 mengalami penurnan hingga 2,06 persen. Penurunan terjadai pada ekspor non migas hingga 2,11 persen dibanding Feburari 2015 sebesar 5,29 persen.
Seperti apa abstraksi nilai ekspor-impor di Banten tahun ini, berikut press releasi yang diunduh di website resmi BPS Banten.
- Nilai
ekspor Banten pada Februari 2016 turun 2,06 persen dibanding ekspor
Januari 2015, yaitu dari sebelumnya sebesar US$683,74 juta menjadi
US$669,68 juta, sementara dibanding Februari 2015 nilai ekspor mengalami
penurunan 5,29 persen.
- Ekspor nonmigas Februari 2016 mengalami
penurunan 2,11 persen dibanding Januari 2015, dari US$683,54 juta
menjadi US$669,11 juta, sedangkan dibanding Februari 2015 turun 5,37
persen.
- Ekspor migas Februari 2016 meningkat 192,90 persen
dibanding bulan sebelumnya, dari US$0,19 juta menjadi US$0,56 juta,
sementara dibanding ekspor Februari 2015 meningkat 709,09 persen.
- Nilai
impor Banten Februari 2016 naik 1,65 persen dibanding Januari 2015,
yaitu dari sebelumnya US$651,52 juta menjadi US$662,24 juta, sedangkan
dibanding impor bulan yang sama tahun sebelumnya, nilai impor Februari
2016 mengalami penurunan 15,41 persen.
- Impor nonmigas Februari
2016 mengalami peningkatan 12,11 persen dari US$471,98 juta pada bulan
sebelumnya dan mencapai US$529,12 juta, sementara dibanding periode yang
sama tahun 2015, nilai impor nonmigas turun 20,56 persen.
- Impor
migas Februari 2016 turun sebesar 25,85 persen menjadi US$133,12 juta,
dari sebelumnya mencapai US$179,54 juta pada Januari 2015, sedangkan
dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, nilai impor migas meningkat
13,98 persen.
Sumber: BPS
Editor: Karnoto
EKONOMI BISNIS,
EKSPOR-IMPOR
Awalnya perusahaan Harry menjual furnitur untuk ritel. Baru pada tahun 2004 mereka mulai melirik pangsa pasar hotel. Perusahaan furnitur "American Furniture Manufacture" yang didirikan
oleh Harry Chou, warga Indonesia asal Surabaya, memasok furnitur dan
lampu ke jaringan hotel bintang tiga hingga lima di seluruh Amerika.
"Asal mulanya saya imigran ke Amerika tahun 1988, background saya
arsitek, terus 1998 sampai sekarang di (bidang) furnitur dan lampu.
Tiba-tiba ada keinginan untuk membuat furnitur, untuk mulai usaha
sendiri, tapi kita mulai kecil dulu, pertama kita ikut, mulai ikut
pameran," kata Harry.
Awalnya perusahaan Harry menjual furnitur untuk ritel. Baru pada tahun 2004 mereka mulai melirik pangsa pasar hotel. Harry mengatakan, "Bedanya itu, kalau furnitur untuk hotel sama untuk
rumah tinggal, itu berbeda. Rumah tinggal, kita semacam spekulasi, kita
beli furnitur dari Indonesia, kita taruh di gudang, terus kita pakai
sales man, dan apa yang kita beli belum tentu laku, apa yang saya suka
belum tentu Anda suka, jadi lama-lama gudang kita tambah besar dan cost
tambah gede.
Namun menurut Harry, memasarkan furnitur ke jaringan hotel harus
sangat memperhatikan pelayanan pelanggan, seperti kecepatan pengiriman
serta instalasi. Selain itu harus tanggap menghadapi setiap masalah.
"Untuk hotel kalau kita telat 1 hari, kita kena denda 1 hari 1 kamar,
sekian dolar. Kalau kita gak bisa selesai 100 kamar, 100 kamar kali
$100, tinggal hitung aja," jelasnya.Dalam setahun perusahaan yang mayoritas furniturnya diproduksi di
Surabaya, dan di pabrik mereka di California, menangani paling sedikit
80 hotel di Amerika.
Harry mengaku keberhasilannya menembus jaringan hotel di Amerika tidak datang begitu saja, melainkan dengan kerja keras. "Kuncinya begini, kalau ada permintaan dari, pertanyaan kan banyak
dari Amerika yang tertarik dengan barang dari Indonesia, itu kalau
terima email, apa itu, tolong segera dibalas. Komunikasi yang penting.
Terus nomor dua pasti kualitas, pasti, dan nomor tiganya, shipping
time-nya itu harus tepat, apa yang dibuat juga harus sesuai dengan apa
yang dibuat contoh," sarannya.
Harry yang juga berencana untuk membangun industri sofa di Jakarta
ini, juga aktif di berbagai organisasi. Ia adalah ketua Dewan Bisnis
Indonesia Amerika (IABC) yang memiliki 100 anggota pengusaha Indonesia.
Badan ini bertujuan menjembatani pengusaha Indonesia yang berbisnis ke
Amerika atau sebaliknya pengusaha Amerika yang tertarik berbisnis di
Indonesia. Harry juga menjadi anggota Congressional Club, yang secara berkala bertemu dengan anggota Kongres Amerika.
"Ya kita networking lah untuk, tujuan kita kenalan sama Congressman
juga kembali untuk Indonesia juga, kita tetep biarpun sudah warga negara
Amerika, tetep kita lahir di Indonesia, jadi kita masih cinta
Indonesia, makanannya tiap hari masih makanan Indonesia, gak ada nasi
gak bisa makan," ujar Harry.
Penulis: Dian Widyastuti, Nia Iman Santoso
#voaindonesia